Mengembangkan Outline/Kerangka Cerita Agar Tidak Bertele-tele
Outline atau kerangka cerita adalah struktur alur cerita yang akan ditulis. Untuk sebuah
novel, outline ini biasanya berisi poin-poin utama yang akan diangkat dalam setiap chapter.
Outline adalah sesuatu yang wajib dibuat sebelum mulai menulis novel karena outline
merupakan peta dalam menulis dan outline ini bertujuan juga untuk menghindari yang
namanya writers block.
Nah, bagaimana sih caranya membuat outline?
Berikut ini langkah-langkahnya:
1. Bagi cerita jadi 3 bagian utama
Tiga bagian utama dalam cerita adalah bagian awal, bagian tengah, dan bagian akhir. Pada
bagian awal, biasanya berisi perkenalan karakter utama, masalah utama yang sudah ada, dan
tindakan yang akan dilakukan karakter utama. Bagian tengah berisi setiap detil tindakan si
karakter terhadap masalah yang ada. Dan bagian akhir adalah solusi atau konsekuensi dari
semua tindakan yang sudah diambil.
Contoh:
Awal : Perkenalan tokoh A. Tokoh A ternyata naksir dengan seorang gadis baru di
sekolahnya.
Tengah : Si A berjuang bagaimanapun juga ia harus medapatkan gadis itu, walaupun banyak
konflik dan rintangan.
Akhir : Si A akhirnya mendapatkan gadis itu dan kini mereka berpacaran.
2. Buat Talking Point
Setelah kamu membagi cerita jadi 3 bagian, saatnya kamu membuat daftar poin-poin yang
ingin kamu bahas dari setiap bagiannya. Setiap satu poin akan mewakili satu chapter.
Pastikan juga dari satu poin ke poin berikutnya saling berkesinambungan. Ini akan membuat
pembaca penasaran dan terus ingin membaca ceritamu.
Contoh:
*Awal
(Chapter/bab)
I. Perkenalan Tokoh A.
II. Tokoh A suka gadis dan mulai mendekati, sampai minta dikenalkan oleh temannya.
*Tengah
(Chapter/bab)
III. Tokoh A mempraktekan saran dari temannya bahwa dia harus selalu tersenyum jika
melihat gadis itu.
IV. Tokoh A melanjutkan aksinya dengan memberi cokelat untuk si gadis supaya semakin
yakin bahwa tokoh A memang menyukainya.
V. Tokoh A mulai sering menawari untuk pulang bersama.
VI. Tokoh A tetap gagal dan hampir menyerah karena gadis terus menolak.
VII. Tokoh A mengetahui bahwa gadis itu sudah punya pacar. (Bisa menjadi bagian konflik)
Dst.
*Akhir
(Chapter/bab)
VIII. Gadis tersebut akhirnya putus dengan pacarnya dan berubah pikiran, mulai mau didekati
tokoh A lagi.
IX. Akhirnya tokoh A dan gadis itu berhasil berpacaran.
3. Tambahkan keterangan (bila diperlukan)
Dari setiap poin yang sudah kamu buat, kamu bisa memberikan keterangan tambahan.
Keterangan tambahan ini bisa berupa sub-poin atau poin-poin yang lebih detil. Bisa juga
keterangan mengenai hal-hal yang relevan terhadap poin tersebut, misalnya quote, dan lain-
lain.
Contoh:
VI. Tokoh A gagal terus dan hampir menyerah
a. Tokoh A sedih meratapi kesendirian
b. Tokoh A mulai berusaha untuk move on dan mencari gadis lain
c. Tokoh A tertidur dan mimpi jadi jomblo seumur hidup
(Misal seperti itu)
Nah, kalau outline-mu sudah jadi, artinya kamu sudah ada bayangan yang jelas tentang cerita
yang kamu akan tulis dari awal banget sampai akhir. Kalau sudah begini, tentunya kehabisan
ide di tengah proses menulis bisa sangat amat diminimalisir kan? Itulah kenapa saya percaya
banget kalau outline ini punya peranan penting untuk menghalau writer’s block.
Pada sebuah outline, setiap poin/ chapter tidak selalu setara. Ada chapter yang memang
krusial karena mengandung inti cerita. Ada chapter yang hanya sebagai pelengkap untuk
membangun cerita. Bila di tengah proses penulisan nanti ada chapter yang cukup krusial
untuk ditambah, tentu kamu tetap boleh menambahkannya. Demikian pula bila kamu
menemukan chapter yang bisa dihapus. Tapi jangan lupa untuk update outline yang
sebelumnya sudah kamu buat ya karena outline ini bisa jadi gerbang awal untuk menggaet
hato editor bila kamu ingin novelmu diterbitkan.
Dan ini juga merupakan kebutuhan Author dalam membuat kerangka cerita :
-Tentukan tema pada cerita yang akan kamu buat.
-Sudut Pandang/Point of View
Tentukan sudut pandang cerita yang akan kamu ambil. Perhitungkan secara matang tingkat
keluwesannya.
Sudut pandang yang kamu ambil harus dapat menggambarkan adegan-adegan dalam novelmu
secara apik.
Kamu bisa menggunakan satu atau lebih sudut pandang. Namun ada baiknya pilih satu saja
yang paling cocok dengan ceritamu.
-Alur/Plot. Pada dasarnya, hampir semua cerita menggunakan tiga plot dasar. Plot maju, plot
mundur, atau gabungan antar keduanya.
Masing-masing plot mempunyai kekuatan penggambaran tersendiri. Maka unsur yang satu
ini akan menentukan kemana arah ceritamu dibawa.
-Ciptakan karakter tokoh yang kuat agar pembaca mudah terkesan juga dengan si tokoh.
Ciptakan karakter yang unik dalam novelmu. Karakter yang unik bisa membuat pembaca
penasaran. Sehingga dapat memancing pembaca untuk terus mengikuti alur cerita di
dalamnya. Tulis secara detail mulai dari nama, jenis kelamin, ciri fisik, kepribadian,
kebiasaan, hobi dan hal-hal detail lainnya. Tentukan posisi masing-masing karakter. Siapa
yang protagonis, antagonis, atau penengahnya. Mana karakter utama, karakter pendukung,
atau figuran.
-Buat dialog berisi makna di setiap chapternya supaya ceritamu tidak kosong.
-Merancang setting cerita yang membuat menarik di mata pembaca.
Misal nih dibenak kalian muncul sebuah pertanyaan seperti ini
✿ Gimana sih bikin cerita itu lebih asik konfliknya panjang atau pendek (nggak terlalu bertele-tele)?
untuk membedakan cerita bisa dilihat dari segi unsurnya. Contoh, unsur intrinsik. Kita
lihat di bagian konflik.
Dalam cerpen, itu jelas menggunakan alur yang singkat/pendek. Biasanya, cerpen
menggunakan 1 konflik saja, lalu ke klimaks kemudian penyelesaian untuk ending. (Tetapi
ada juga yang menggantung)
Kalau untuk cerita novel sendiri, ada yang menggunakan 1 konflik, tetapi dibuat menumpuk,
dalam artian konflik yang disajikan bercabang, tetapi tetap dalam 1 lingkup konflik yang
sejalan.
Tapi, untuk membedakan antara cerpen dan novel biasanya penulis menyajikan dengan
rentetan konflik yang berbeda.
Dalam novel, konflik dibuat panjang dan juga bermacam-macam.
Seperti;
1. konflik A-Klimaks-Penyelesaian.
2. konflik A-konflik B-konflik C- klimaks- penyelesaian.
(Banyak konflik yang berbeda tetapi dibuat klimaks yang sama & ending yang sama)
3. Konflik A-Klimaks-Konflik B-penyelesaian.
(Muncul konflik di awal, kemudian semakin lama semakin memuncak ‘klimaks’ setelah
memuncak, muncul lagi konflik baru tetapi keadaan sudah mulai mereda, dan pada akhirnya
konflik berjalan sampai pada penyelesaian)
Jadi dalam cerita novel, sekarang begitu banyak penulis membuat variasi konflik dalam cerita mereka.
✿ ✿ ✿ ✿ ✿ ✿ ✿ ✿
📝Website als : https://linktr.ee/edlwyni
📱Instagram : @edlwyni & @wattpad.als
📚Wattpad : @incess_alay
💌Email : eldawhyni616@gmail.com
Komentar
Posting Komentar